Halaman

Selasa, 16 April 2013

Gaya Bahasa

a.   Pengertian Gaya Bahasa
Kartika (2005:82) menjelaskan Gaya merupakan estetika diri sendiri yang diekspresikan melalui bahasa dan kepribadian. Dalam Kamus Linguistik gaya atau khususnya gaya bahasa dalam retorika dikenal isitilah style. Kata style diturunkan dari bahasa latin stilus, yang artinya suatu keahlian dan kemampuan untuk menulis atau mempergunakan kata-kata secara indah (Keraf, 2008:112).
Dalam bahasa lisan nada tampak dalam intonasi, dalam bahasa tulis nada merupakan kualitas gaya yang memaparkan sikap pengarang terhadap masalah yang dikemukakan dan juga merupakan sikap pengarang terhadap pembaca. Nada sangat bergantung pada gaya (Najid, 2003:27).
Gaya bahasa sebagai gejala penggunaan sistem tanda , dapat dipahami bahwa gaya bahasa pada dasarnya memiliki sejumlah matra hubungan. Matra hubungan tersebut dapat dikaitkan dengan dunia proses kreatif pengarang, dunia luar yang dijadikan obyek dan bahan penciptaan, fakta yang terkait dengan aspek internal kebahasaan itu sendiri, dan dunia penafsiran penanggapnya (Aminuddin, 1995:54).
Gaya bahasa adalah pengungkapan ide, gagasan, pikiran-pikiran seorang penulis yang meliputi hierarki kebahasaan yaitu kata, frasa, klausa, bahkan wacana untuk menghadapi situasi tertentu (Rahayu, 2005:11). Gaya bahasa adalah susunan perkataan yang terjadi karena perasaan yang timbul atau hidup dalam hati pengarang.
Gaya bahasa mencakup diksi atau pilihan leksikal, struktur kalimat, majas citraan, pola rima, matra yang digunakan sastrawan atau yang terdapat dalam karya sastra. Jadi majas merupakan bagian dari gaya bahasa. Majas merupakan peristiwa pemakaian kata yang melewati batas-batas maknanya yang lazim atau menyimpang dari arti harfiah.
b.      Sendi-sendi Gaya Bahasa
Syarat-syarat yang diperlukan untuk membedakan arti gaya bahasa yang baik dan buruk merupakan sendi-sendi gaya bahasa yang mengandung 3 unsur, yaitu (1) kejujuran, (2) sopan-santun, dan (3) menarik (Keraf, 2008:32), yaitu:
1)      Kejujuran
Kejujuran adalah ungkapan yang dilakukan seseorang karena melaksanakan sesuatu yang di dalamnya mencakup unsure keterbukaan dan apa adanya (Kurniawan, 2007:21).
Kejujuran dalam bahasa berarti mengikuti aturan-aturan, kaidah-kaidah yang baik dan benar dalam berbahasa. Pemakaian kata-kata yang kabur dan tidak terarah, serta penggunaan kalimat yang berbelit-belit adalah jalan untuk mengundang ketidakjujuran (Keraf, 2008:113). Jadi, kejujuran dalam bahasa adalah penggunaan bahasa yang tidak berbelit-belit sesuai dengan kaidah atau aturan yang telah ditetapkan.
2)      Sopan-santun
Sopan-santun adalah suatu kebiasaan untuk menghargai orang lain dalam kehidupan bermasyarakat. Keraf (2008:114) mendeskripsikan sopan-santun dalam bahasa adalah memberi penghargaan atau menghormati orang yang diajak berbicara, khususnya pendengar atau pembaca. Rasa hormat dalam gaya bahasa dimanifestasikan melalui kejelasan dan kesingkatan dari kata-kata yang digunakan sesuai dengan bahasa dalam pergaulan. Kejelasan berarti bahasa yang digunakan tidak membuat orang lain bingung atau berpikir secara berat untuk dapat memahami bahasa yang digunakan seseorang. Adapun kesingkatan dalam pemakaian bahasa yang efektif dan mempergunakan kata-kata yang seefisien mungkin, meniadakan penggunaan dua kata atau lebih yang bersinonim dan menghindari repetisi yang tidak perlu.
3)   Menarik
Kejelasan dan kesingkatan dalam berbahasa merupakan langkah awal untuk membuat bahasa yang digunakan seseoran.g menjadi menarik perhatian lawan bicara.. Sebuah gaya bahasa yang menarik dapat diukur melalui komponen- komponen: variasi, humor yang sehat, pengertian yang baik, tenaga hidup, dan penuh daya khayal (imajinasi). Untuk menarik perhatian ini seorang penulis perlu memiliki kekayaan kosakata, mengubah panjang-pendek kalimat, dan struktur- struktur morfologisnya (Keraf, 2008:115).
c.     Fungsi Gaya Bahasa
Gaya bahasa berbentuk retorik yaitu penggunaan kata-kata dalam berbicara dan menulis untuk mempengaruhi pembaca atau pendengar. Bertolak dari pernyataan tersubut dapat dilihat dari fungsi gaya bahasa yaitu untuk meninggikan selera dan alat untuk meyakinkan atau mempengaruhi pembaca atau pendengar. Penggunakan perhiasan bahasa pada umumnya untuk memperkuat atau mengistimewakan efek yang didasarkan pada perbandingan, pertentangan, asosiasi, persesuaian kata, dan sebagainya.
Berdasarkan pendapat diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa gaya bahasa sebagai berikut:
1)      Gaya bahasa berfungsi sebagai alat untuk meninggikan selera.
2)      Gaya bahasa berfungsi sebagai alat untuk mempengaruhi atau meyakinkan pembaca atau pendengar.
3)      Gaya bahasa berfungsi sebagai alat untuk menciptakan suasana tertentu.
4)      Gaya bahasa berfungsi sebagai alat untuk memperkuat efek terhadap gagasan yang disampaikan.
d.     Macam Gaya Bahasa
1)   Gaya Bahasa Perbandingan
a)Alegori: Menyatakan dengan cara lain, melalui kiasan atau penggambaran.
b)Alusio: Pemakaian ungkapan yang tidak diselesaikan karena sudah dikenal.
c)Simile: Pengungkapan dengan perbandingan eksplisit yang dinyatakan dengan kata depan dan pengubung, seperti layaknya, bagaikan, dll.
d)Metafora: Pengungkapan berupa perbandingan analogis dengan menghilangkan kata seperti layaknya, bagaikan, dll.
e)Antropomorfisme: Metafora yang menggunakan kata atau bentuk lain yang berhubungan dengan manusia untuk hal yang bukan manusia.
f)Sinestesia: Metafora berupa ungkapan yang berhubungan dengan suatu indra untuk dikenakan pada indra lain.
g)Antonomasia: Penggunaan sifat sebagai nama diri atau nama diri lain sebagai nama jenis.
h)Aptronim: Pemberian nama yang cocok dengan sifat atau pekerjaan orang.
i)Metonimia: Pengungkapan berupa penggunaan nama untuk benda lain yang menjadi merek, ciri khas, atau atribut.
j)Hipokorisme: Penggunaan nama timangan atau kata yang dipakai untuk menunjukkan hubungan karib.
k)Litotes: Ungkapan berupa mengecilkan fakta dengan tujuan merendahkan diri.
l)Hiperbola: Pengungkapan yang melebih-lebihkan kenyataan sehingga kenyataan tersebut menjadi tidak masuk akal.
m)Personifikasi: Pengungkapan dengan menyampaikan benda mati atau tidak bernyawa sebagai manusia.
n)Depersonifikasi: Pengungkapan dengan tidak menjadikan benda-benda mati atau tidak bernyawa.
o)Pars pro toto: Pengungkapan sebagian dari objek untuk menunjukkan keseluruhan objek.
p)Totum pro parte: Pengungkapan keseluruhan objek padahal yang dimaksud hanya sebagian.
q)Eufimisme: Pengungkapan kata-kata yang dipandang tabu atau dirasa kasar dengan kata-kata lain yang lebih pantas atau dianggap halus. 
r)Disfemisme: Pengungkapan pernyataan tabu atau yang dirasa kurang pantas sebagaimana adanya
s)Fabel: Menyatakan perilaku binatang sebagai manusia yang dapat berpikir dan bertutur kata.
t)Parabel: Ungkapan pelajaran atau nilai tetapi dikiaskan atau disamarkan dalam cerita.
u)Perifrase: Ungkapan yang panjang sebagai pengganti ungkapan yang lebih pendek.
v)Eponim: Menjadikan nama orang sebagai tempat atau pranata.
w)Simbolik: Melukiskan sesuatu dengan menggunakan simbol atau lambang untuk menyatakan maksud.
2)   Gaya Bahasa Sindiran
a) Ironi: Sindiran dengan menyembunyikan fakta yang sebenarnya dan mengatakan kebalikan dari fakta tersebut.
b)Sarkasme: Sindiran langsung dan kasar.
c)Sinisme: Ungkapan yang bersifat mencemooh pikiran atau ide bahwa kebaikan terdapat pada manusia (lebih kasar dari ironi).
d)Satire: Ungkapan yang menggunakan sarkasme, ironi, atau parodi, untuk mengecam atau menertawakan gagasan, kebiasaan, dll.
e)Innuendo: Sindiran yang bersifat mengecilkan fakta sesungguhnya.
3)   Gaya Bahasa Penegasan
a)Apofasis: Penegasan dengan cara seolah-olah menyangkal yang ditegaskan.
b)Pleonasme: Menambahkan keterangan pada pernyataan yang sudah jelas atau menambahkan keterangan yang sebenarnya tidak diperlukan.
c)Repetisi: Perulangan kata, frase, dan klausa yang sama dalam suatu kalimat.
d)Pararima: Pengulangan konsonan awal dan akhir dalam kata atau bagian kata yang berlainan.
e)Aliterasi: Repetisi konsonan pada awal kata secara berurutan.
f)Paralelisme: Pengungkapan dengan menggunakan kata, frase, atau klausa yang sejajar.
g)Tautologi: Pengulangan kata dengan menggunakan sinonimnya.
h)Sigmatisme: Pengulangan bunyi "s" untuk efek tertentu.
i)Antanaklasis: Menggunakan perulangan kata yang sama, tetapi dengan makna yang berlainan.
j)Klimaks: Pemaparan pikiran atau hal secara berturut-turut dari yang sederhana atau kurang penting meningkat kepada hal yang kompleks/lebih penting.
k)Antiklimaks: Pemaparan pikiran atau hal secara berturut-turut dari yang kompleks atau lebih penting menurun kepada hal yang sederhana/kurang penting.
l)Inversi: Menyebutkan terlebih dahulu predikat dalam suatu kalimat sebelum subjeknya.
m)Retoris: Ungkapan pertanyaan yang jawabannya telah terkandung di dalam pertanyaan tersebut.
n)Elipsis: Penghilangan satu atau beberapa unsur kalimat, yang dalam susunan normal unsur tersebut seharusnya ada.
o)Koreksio: Ungkapan dengan menyebutkan hal-hal yang dianggap keliru atau kurang tepat, kemudian disebutkan maksud yang sesungguhnya.
p)Polisindenton: Pengungkapan suatu kalimat atau wacana, dihubungkan dengan kata penghubung.
q)Asindeton: Pengungkapan suatu kalimat atau wacana tanpa kata penghubung.
r)Interupsi: Ungkapan berupa penyisipan keterangan tambahan di antara unsur-unsur kalimat.
s)Ekskalamasio: Ungkapan dengan menggunakan kata-kata seru.
t)Enumerasio: Ungkapan penegasan berupa penguraian bagian demi bagian suatu keseluruhan.
u)Preterito: Ungkapan penegasan dengan cara menyembunyikan maksud yang sebenarnya.
v)Alonim: Penggunaan varian dari nama untuk menegaskan.
w)Kolokasi: Asosiasi tetap antara suatu kata dengan kata lain yang berdampingan dalam kalimat.
x)Silepsis: Penggunaan satu kata yang mempunyai lebih dari satu makna dan yang berfungsi dalam lebih dari satu konstruksi sintaksis.
y)Zeugma: Silepsi dengan menggunakan kata yang tidak logis dan tidak gramatis untuk konstruksi sintaksis yang kedua, sehingga menjadi kalimat yang rancu.
4)   Gaya Bahasa Pertentangan
a)Paradoks: Pengungkapan dengan menyatakan dua hal yang seolah-olah bertentangan, namun sebenarnya keduanya benar.
b)Oksimoron: Paradoks dalam satu frase.
c)Antitesis: Pengungkapan dengan menggunakan kata-kata yang berlawanan arti satu dengan yang lainnya.
d)Kontradiksi interminus: Pernyataan yang bersifat menyangkal yang telah disebutkan pada bagian sebelumnya.
e)Anakronisme: Ungkapan yang mengandung ketidaksesuaian dengan antara peristiwa dengan waktunya.

RONGGENG DUKUH PARUK (CATATAN BUAT EMAK) KARYA AHMAD TOHARI

A. SINOPSIS
Dukuh Paruk mempunyai ronggeng baru bernama Srintil, gadis yatim piatu 11 tahun. Penduduk percaya citra Dukuh Paruk sebagai dukuh ronggeng akan kembali ramai setelah srintil dinobatkan sebagai ronggeng. Dukuh Paruk akan ramai dengan pengunjung yang ingin melihat ketika Srintil menari sebagai ronggeng, pemandangan saling berebut untuk mendapatkan Srintil dan keramaian lainnya. Bau harum keramatnya Ki Secamenggala akan meramaikan dukuh itu.
Kakek dan nenek Srintil sangat berbahagia karena usaha untuk mendidik Srintil sebagai ronggeng akhirnya tercapai. Setelah kedua orang tuanya meninggal 11 tahun lalu kakek dan neneknya ingin Srintil menjadi ronggeng yang dapat menjadi kebanggan Dukuh Paruk. Srintil sebagai calon ronggeng mendapat banyak dukungan bahkan Ki Secamenggala. Namun Rasus kecewa dan sedih karena hal itu, sebab Srintil nantinya akan menjadi milik banyak orang. Sebagai calon rongeng juga harus menyerahkan keperawanannya kepada Ki Kertareja. Dalam sayembara Dower dan Sulam memenangkan sayembara itu dan dapat menikmati srintil untuk pertama kali.
Ketika penobatan Rasus mengamati Srintil dari kejauhan, setelah acara penobatan Srintil akan menjadi budak nafsu dibalik kelambu. Dower dan Sulam bertengkar untuk menentukan siapa yang berhak terlebih dahulu menikmati tubuh srintil. Srintil secara diam-diam menghampiri Rasus untuk menggaulinya, ia lebih memilih menyerahkan keperawanannya kepada Rasus pemuda yang dicintainya daripada kepada orang lain. Setelah itu Rasus meninggalkan Dukuh Paruk  ke Desa Dawuan untuk menyingkirkan bayangan Srintil dari hatinya. Rasus yang sangat mencintai Srintil hatinya sangat terluka karena Srintil akan menjadi milik orang banyak dan setiap orang dapat menidurinya. Srintil meminta Rasus untuk menjadi suaminya, namun Rasus menolak, ia membiarkan Srintil untuk menjadi kebanggaan Dukuh Paruk.

B. ANALISIS STRUKTUR
v  Tema cerita
Tema dalam novel “Ronggeng Dukuh Paruk (Catatan Buat Emak) ini adalah mengenai kehidupan ronggeng di daerah Jawa yaitu Dukuh Paruk
v  Setting cerita
Bertempat di Dukuh Paruk daerah Jawa
v  Penokohan
1)   Srintil; gadis yatim piatu yang dipercaya sebagai titisan Ki Secamenggala. Dia ronggeng kebanggaan Dukuh Paruk, buta huruf
2)   Rasus; pemuda yang mencintai srintil, dan berusaha mengangkat nama baik dukuh paruk dengan menentang hokum adapt tentang aturan ronggeng.
3)   Keluarga sukarya; kakek srintil.
4)   Ki Kertareja; dukun dukuh paruk
5)   Dower; pemuda pemenang sayembara, penuh ambisi, curang, egois
6)   Sulam; pemuda yang ingin menikmati srntil dengan segala cara 
v  Alur
Alur dalam novel ronggeng dukuh paruk karya ahmad tohari adalah alur maju, karena dalam penceritaan kejadian diceritakan dari awal mula permasalahan atau kejadian hingga penyelesaian akhir cerita secara berurutan.
v  sudut pandang
dalam novel ini pengarang menggunakan sudut pandang “dia terbatas” sebagai tokoh utama. dalam penceritaaan pengarang menggunakan sudut pandang ini untuk mengungkapkan perwatakan dan perasaan pengarang kepada pembaca.
C. ANALISIS MAKNA
Berdasarkan tinjauan sastra pendekatan feminisme yaitu antara lain; (a) wanita yang masih menjadi eksploitasi kaum laki-laki, (b) harga diri seorang wanita, (c) ketidakberdayaan wanita.
Pada novel ini diceritakan budaya di Dukuh Paruk, bagi wanita yang ingin yang menjadi seniman ronggeng harus mnyerahkan keperawanannya terlebih dahulu sebagai syarat untuk menjadi ronggeng. Srintil yang dibanggakan masyarakat dukuh paruk untuk menjadi ronggeng Dukuh Paruk harus menyerahkan keperawanannya kepada pemuda yang memenangkan sayembara yang diadakan masyarakat Dukuh Paruk. Keperawanan Srintil dimanfaatkan untuk sayembara banyak orang yang berusaha melakukan apa saja untuk dapat menikmati tubuh Srintil pertama kali. Dower dan Sulam yang menang sayembara itu melakukan kecurangan dengan menyuap Ki Kertareja agar dapat menang. Wanita sebagai ronggeng hanya djadikan objek pemuas laki-laki. laki-laki yang mempunyai uang dapat menikmati atau meniduri ronggeng tersebut tanpa dosa dan tanpa rasa bersalah.
Srintil yang harus menyerahkan keperawanannya kepada dua pemuda pemenang sayembara tidak rela untuk melayani nafsu bejat Dower dan Sulam. Akhirnya Srintil lebih memilih menyerahkan kesuciannya kepada Rasus pemuda yang dicntainya. Harga diri seorang wanita penari ronggeng ketika harus menyerahkan keperawanan sebagai syarat untuk menjadi ronggeng. Walaupun akhirnya ia tidak perawan lagi namun paling tidak ia menyerahkan kesuciannya kepada laki-laki yang dicintainya. Srintil meminta Rasus. untuk menjadi suaminya, namun Rasus menolak karena Srintil telah menjadi kebanggaan Dukuh Paruk sebagai ronggeng Dukuh Paruk dan telah menjadi milik orang banyak.
Wanita masih tidak berdaya dengan aturan-aturan yang tidak memihak kepentingan mereka. Banyak aturan yang membuat kaum perempuan dieksploitasi. Dalam novel ronggeng dukuh paruk ini seorang wanita yang akan menjadi ronggeng harus menyerahkan keperawanannya kepada Ki Kertareja atau pemenang sayembara. Wanita hanya dijadikan pemuas nafsu laki-laki dan tidak dapat berbuat sesuatu untuk perubahan adat aturan tentang ronggeng yang merugikan hak perempuan.
Ronggeng Dukuh Paruk novel yang menceritakan betapa wanita masih lemah terhadap kaum laki-laki. Dalam novel ini mengandung unsur sub budaya yang tercermin dalam masyarakat Indonesia yang masih eksis hingga saat ini. novel ini mencernkan kehidupan pada zamannya walaupun novel ini hanya karya fiksi, namun mengandung banyak pelajaran, cermin budaya, pesan moral mengenai wanita dan segala permasalahannya. semua itu diungkap melalui tokoh Srintil yang polos, tidak mengerti dunia luar, cantik yang harus menderita, kecewa dan mendapat teklanan batin. srintil akhirnya mengalami ketidakseimbangan pada jiwanya.

Kajian Puisi “*Puisi Terakhir WS Rendra” karya WS Rendra


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Karya sastra selain dapat dikatakan sebuah karya seni dalam bentuk tulisan juga dapat dikatakan sebagai hasil pemikiran manusia tentang penggambaran kenyataan yang berisi ilmu berbagai pengetahuan di dunia. Sastra tidak hanya terkait dalam satu bidang ilmu tetapi juga mencakup beberapa bidang ilmu yang dapat menjadi satu kesatuan. Karena itu karya sastra dapat dikaji dengan menggunakan berbagai bidang ilmu, antara lain psikologi, sosiologi, dan filsafat. Karya sastra itu sendiri terdiri dari prosa, puisi, dan drama sebagai genre karya sastra.
Puisi termasuk salah satu bentuk karya sastra. Puisi adalah sebagai alat pengungkapan pikiran dan perasaan atau sebagai alat ekspresi. Karya sastra merupakan bentuk komunikasi antara sastrawan dengan pembacanya. Apa yang ditulis sastrawan dalam karya sastranya adalah sesuatu yang ingin diungkapkan pada pembaca. Dalam penyampaian idenya tersebut sastrawan tidak bisa dipisahkan dari latar belakang dan lingkungannya. Abrams (1979:6) mengemukakan dalam komunikasi antara sastrawan dan pembaca tidak akan terlepas dari empat situasi sastra, yaitu: karya satra, sastrawan, semesta, dan  pembaca. Untuk itu terdapat empat pendekatan dalam kajian karya sastra, yaitu:
1.      Pendekatan objektif (objective criticism), yaitu kajian sastra yang menitik beratkan pada karya sastra.
2.      Pendekatan ekspresif (expressive criticism), yaitu kajian sastra yang menitik beratkan pada penulis.
3.      Pendekatan mimetik (mimetic criticism), yaitu kajian sastra yang menitik beratkan terhadap semesta/alam.
4.      Pendekatan pragmatik (pragmatic criticism), yaitu kajian sastra yang menitik beratkan pada pembaca.
Sekarang ini pendekatan ekspresif telah dikembangkan menjadi psikologi sastra dan antropologi sastra. Oleh karena itu, pada makalah ini, penyusun akan mengkaji puisi “*Puisi Terakhir WS Rendra” karya WS Rendra berdasarkan pendekatan ekspresif dengan fokus kajian pada kajian tentang psikologi sastra.
B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang sudah dijelaskan sebelumnya, dapat diketahui rumusan masalah yang akan dikaji adalah sebagai berikut:
1.      Bagaimana kajian struktural puisi “*Puisi Terakhir WS Rendra” karya WS Rendra?
2.      Bagaimana kajian psikologi sastra puisi “*Puisi Terakhir WS Rendra” karya WS Rendra?
C.    Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan dari makalah ini adalah sebagai berikut:
  1. Mengetahui kajian struktural puisi “*Puisi Terakhir WS Rendra” karya WS Rendra?
  2. Mengetahui kajian psikologi sastra puisi “*Puisi Terakhir WS Rendra” karya WS Rendra.
D.    Manfaat Penulisan
Manfaat penulisan dari makalah ini adalah sebagai berikut:
1.      Memberikan wawasan mengenai menganalisis puisi dengan kajian psikologi sastra.
2.      Sumber pengetahuan bagi siswa melalui pembelajaran puisi.
3.      Bagi penulis, memberikan sumbangan informasi bagi pemakalah dalam membuat makalah khususnya bidang sastra.


BAB II
KAJIAN TEORI

A.    Hakikat Puisi
1.      Pengertian Puisi
Secara etimologis, kata puisi dalam bahasa Yunani berasal dari poesis yang artinya berati penciptaan. Dalam bahasa Inggris, padanan kata puisi ini adalah poetry yang erat dengan -poet dan -poem. Mengenai kata poet, Coulter (dalam Tarigan, 1986:4) menjelaskan bahwa kata poet berasal dari Yunani yang berarti membuat atau mencipta. Dalam bahasa Yunani sendiri, kata poet berarti orang yang mencipta melalui imajinasinya, orang yang hampir-hampir menyerupai dewa atau yang amat suka kepada dewa-dewa. Dia adalah orang yang berpenglihatan tajam, orang suci, yang sekaligus merupakan filsuf, negarawan, guru, orang yang dapat menebak kebenaran yang tersembunyi.
Shahnon Ahmad (dalam Pradopo, 2010:6) mengumpulkan definisi puisi yang pada umumnya dikemukakan oleh para penyair romantik Inggris sebagai berikut.
a.       Samuel Taylor Coleridge mengemukakan puisi itu adalah kata-kata yang terindah dalam susunan terindah. Penyair memilih kata-kata yang setepatnya dan disusun secara sebaik-baiknya, misalnya seimbang, simetris, antara satu unsur dengan unsur lain sangat erat berhubungannya, dan sebagainya.
b.      Carlyle mengatakan bahwa puisi merupakan pemikiran yang bersifat musikal. Penyair menciptakan puisi itu memikirkan bunyi-bunyi yang merdu seperti musik dalam puisinya, kata-kata disusun begitu rupa hingga yang menonjol adalah rangkaian bunyinya yang merdu seperti musik, yaitu dengan mempergunakan orkestra bunyi.
c.       Wordsworth mempunyai gagasan bahwa puisi adalah pernyataan perasaan yang imajinatif, yaitu perasaan yang direkakan atau diangankan. Adapun Auden mengemukakan bahwa puisi itu lebih merupakan pernyataan perasaan yang bercampur-baur.
d.      Dunton berpendapat bahwa sebenarnya puisi itu merupakan pemikiran manusia secara konkret dan artistik dalam bahasa emosional serta berirama. Misalnya, dengan kiasan, dengan citra-citra, dan disusun secara artistik (misalnya selaras, simetris, pemilihan kata-katanya tepat, dan sebagainya), dan bahasanya penuh perasaan, serta berirama seperti musik (pergantian bunyi kata-katanya berturut-turut secara teratur).
e.       Shelley mengemukakan bahwa puisi adalah rekaman detik-detik yang paling indah dalam hidup. Misalnya saja peristiwa-peristiwa yang sangat mengesankan dan menimbulkan keharuan yang kuat seperti kebahagiaan, kegembiraan yang memuncak, percintaan, bahkan kesedihan karena kematian orang yang sangat dicintai. Semuanya merupakan detik-detik yang paling indah untuk direkam.
Dari definisi-definisi di atas memang seolah terdapat perbedaan pemikiran, namun tetap terdapat benang merah. Shahnon Ahmad (dalam Pradopo, 2010:7) menyimpulkan bahwa pengertian puisi di atas terdapat garis-garis besar tentang puisi itu sebenarnya. Unsur-unsur itu berupa emosi, imajinas, pemikiran, ide, nada, irama, kesan panca indera, susunan kata, kata kiasan, kepadatan, dan perasaan yang bercampur-baur.
2.      Unsur-Unsur Puisi
Secara sederhana, batang tubuh puisi terbentuk dari beberapa unsur, yaitu kata, larik, bait, bunyi, dan makna. Kelima unsur ini saling mempengaruhi keutuhan sebuah puisi. Secara singkat bisa diuraikan sebagai berikut:
a.       Kata adalah unsur utama terbentuknya sebuah puisi. Pemilihan kata (diksi) yang tepat sangat menentukan kesatuan dan keutuhan unsur-unsur yang lain. Kata-kata yang dipilih diformulasi menjadi sebuah larik.
b.      Larik (atau baris) mempunyai pengertian berbeda dengan kalimat dalam prosa. Larik bisa berupa satu kata saja, bisa frase, bisa pula seperti sebuah kalimat. Pada puisi lama, jumlah kata dalam sebuah larik biasanya empat buat, tapi pada puisi baru tak ada batasan.
c.       Bait merupakan kumpulan larik yang tersusun harmonis. Pada bait inilah biasanya ada kesatuan makna. Pada puisi lama, jumlah larik dalam sebuah bait biasanya empat buah, tetapi pada puisi baru tidak dibatasi.
d.      Bunyi dibentuk oleh rima dan irama. Rima (persajakan) adalah bunyi-bunyi yang ditimbulkan oleh huruf atau kata-kata dalam larik dan bait. Sedangkan irama (ritme) adalah pergantian tinggi rendah, panjang pendek, dan keras lembut ucapan bunyi. Timbulnya irama disebabkan oleh perulangan bunyi secara berturut-turut dan bervariasi (misalnya karena adanya rima, perulangan kata, perulangan bait), tekanan-tekanan kata yang bergantian keras lemahnya (karena sifat-sifat konsonan dan vokal), atau panjang pendek kata. Dari sini dapat dipahami bahwa rima adalah salah satu unsur pembentuk irama, namun irama tidak hanya dibentuk oleh rima. Baik rima maupun irama inilah yang menciptakan efek musikalisasi pada puisi, yang membuat puisi menjadi indah dan enak didengar meskipun tanpa dilagukan.
e.       Makna adalah unsur tujuan dari pemilihan kata, pembentukan larik dan bait. Makna bisa menjadi isi dan pesan dari puisi tersebut. Melalui makna inilah misi penulis puisi disampaikan.
Adapun secara lebih detail, unsur-unsur puisi bisa dibedakan menjadi dua struktur, yaitu struktur batin dan struktur fisik. Struktur batin puisi, atau sering pula disebut sebagai hakikat puisi, meliputi hal-hal sebagai berikut:
a.       Tema/makna (sense); media puisi adalah bahasa. Tataran bahasa adalah hubungan tanda dengan makna, maka puisi harus bermakna, baik makna tiap kata, baris, bait, maupun makna keseluruhan.
b.      Rasa (feeling), yaitu sikap penyair terhadap pokok permasalahan yang terdapat dalam puisinya. Pengungkapan tema dan rasa erat kaitannya dengan latar belakang sosial dan psikologi penyair, misalnya latar belakang pendidikan, agama, jenis kelamin, kelas sosial, kedudukan dalam masyarakat, usia, pengalaman sosiologis dan psikologis, dan pengetahuan. Kedalaman pengungkapan tema dan ketepatan dalam menyikapi suatu masalah tidak bergantung pada kemampuan penyair memilih kata-kata, rima, gaya bahasa, dan bentuk puisi saja, tetapi lebih banyak bergantung pada wawasan, pengetahuan, pengalaman, dan kepribadian yang terbentuk oleh latar belakang sosiologis dan psikologisnya.
c.       Nada (tone), yaitu sikap penyair terhadap pembacanya. Nada juga berhubungan dengan tema dan rasa. Penyair dapat menyampaikan tema dengan nada menggurui, mendikte, bekerja sama dengan pembaca untuk memecahkan masalah, menyerahkan masalah begitu saja kepada pembaca, dengan nada sombong, menganggap bodoh dan rendah pembaca.
d.      Amanat/tujuan/maksud (itention), sadar maupun tidak, ada tujuan yang mendorong penyair menciptakan puisi. Tujuan tersebut bisa dicari  sebelum penyair menciptakan puisi, maupun dapat ditemui dalam puisinya.
Sedangkan struktur fisik puisi, atau terkadang disebut pula metode puisi, adalah sarana-sarana yang digunakan oleh penyair untuk mengungkapkan hakikat puisi. Struktur fisik puisi meliputi hal-hal sebagai berikut.
a.       Perwajahan puisi (tipografi), yaitu bentuk puisi seperti halaman yang tidak dipenuhi kata-kata, tepi kanan-kiri, pengaturan barisnya, hingga baris puisi yang tidak selalu dimulai dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda titik. Hal-hal tersebut sangat menentukan pemaknaan terhadap puisi.
b.      Diksi, yaitu pemilihan kata-kata yang dilakukan oleh penyair dalam puisinya. Karena puisi adalah bentuk karya sastra yang sedikit kata-kata dapat mengungkapkan banyak hal, maka kata-katanya harus dipilih secermat mungkin. Pemilihan kata-kata dalam puisi erat kaitannya dengan makna, keselarasan bunyi, dan urutan kata.
c.       Imaji, yaitu kata atau susunan kata-kata yang dapat mengungkapkan pengalaman indrawi, seperti penglihatan, pendengaran, dan perasaan. Imaji dapat dibagi menjadi tiga, yaitu imaji suara (auditif), imaji penglihatan (visual), dan imaji raba atau sentuh (imaji taktil). Imaji dapat mengakibatkan pembaca seakan-akan melihat, mendengar, dan merasakan seperti apa yang dialami penyair.
d.      Kata kongkret, yaitu kata yang dapat ditangkap dengan indera yang memungkinkan munculnya imaji. Kata-kata ini berhubungan dengan kiasan atau lambang.
e.       Bahasa figuratif, yaitu bahasa berkias yang dapat menghidupkan/ meningkatkan efek dan menimbulkan konotasi tertentu. Bahasa figuratif disebut juga majas. Adapun macam-macam majas antara lain metafora, simile, personifikasi, litotes, ironi, sinekdoke, eufemisme, repetisi, anafora, pleonasme, antitesis, alusio, klimaks, antiklimaks, satire, pars pro toto, totem pro parte, hingga paradoks.
f.       Versifikasi, yaitu menyangkut rima, ritme, dan metrum.

B.     Psikologi Sastra
Secara etimologi kata Psikologi berasal dari Bahasa Yunani Kuno Psyche dan Logos. Kata psyche berarti “jiwa, roh, atau sukma”, sedangkan kata logos berarti “ilmu”. Jadi, psikologi secara harfiah berarti ilmu jiwa, atau ilmu yang objek kajiannya adalah jiwa (Chaer, 2003: 2).
Psikologi Sastra adalah kajian sastra yang memandang karya sebagai aktivitas kejiwaan. Pengarang akan menggunakan cipta, rasa, dan karya dalam berkarya. Begitu pula pembaca, dalam menanggapi karya juga tak akan lepas dari kejiwaan masing-masing. Bahkan, sebagaimana Sosiologi Refleksi, Psikologi Sastra pun mengenal karya sastra sebagai pantulan kejiwaan.
Pada dasarnya, psikologi sastra akan ditopang oleh 3 pendekatan sekaligus. Pertama, pendekatan tekstual, yang mengkaji aspek psikologis tokoh dalam karya sastra. Kedua, pendekatan reseptif-pragmatik, yang mengkaji aspek psikologis pembaca sebagai penikmat karya sastra yang terbentuk dari pengaruh karya yang dibacanya, serta proses resepsi pembaca dalam menikmati karya sastra. Ketiga, pendekatan ekspresif, yang mengkaji aspek psikologis sang penulis ketika melakukan proses kreatif yang terproyeksi lewat karyanya, baik penulis sebagai pribadi maupun wakil masyarakatnya (Roekhan dalam Aminuddin, 1990:94).
Pendekatan ekspresif adalah pendekatan dalam kajian sastra yang menitikberatkan kajiannya pada ekspresi perasaan atau tempramen penulis (Abrams, 1981: 189). Informasi tentang penulis memiliki peranan yang sangat penting dalam kajian dan apresiasi sastra. Penilaian terhadap karya seni ditekankan pada keaslian dan kebaruan (Teew, 1984: 163-165).
Pendekatan ini dititik beratkan pada eksistensi pengarang sebagai pencipta karya seni. Sejauh manakah keberhasilan pengarang dalam mengekspresikan ide-idenya. Karena itu, tinjauan ekspresif lebih bersifat spesifik. Dasar telaahnya adalah keberhasilan pengarang mengemukakan ide-idenya yang tinggi, ekspresi emosinya yang meluap, dan bagaimana dia mengkomposisi semuanya menjadi satu karya yang bernilai tinggi. Komposisi dan ketepatan peramuan unsur-unsur ekspresif di sini akhirnya menjadi satu unsur sentral dalam penilaian. Karya sastra yang didasari oleh kekayaan penjelmaan jiwa yang kompleks tentunya mempunyai tingkat kerumitan komposisi yang lebih tinggi dibanding dengan karya sastra yang kering dengan dasar jelmaan jiwa.
Psikologi sastra adalah suatu kajian yang bersifat tekstual terhadap aspek psikologis sang tokoh dalam karya sastra. Sebagaimana wawasan yang telah lama menjadi pegangan umum dalam dunia sastra, psikologi sastra juga memandang bahwa sastra merupakan hasil kreativitas pengarang yang menggunakan media bahasa, yang diabdikan untuk kepentingan estetis. Karya sastra merupakan hasil ungkapan kejiwaan seorang pengarang, yang berarti di dalamnya ternuansakan suasana kejiwaan sang pengarang, baik suasana pikir maupun suasana rasa/emosi Roekhan (dalam Aminuddin, 1990:88-91).
Psikologi sastra merupakan gabungan dari teori psikologi dengan teori sastra. Sastra sebagai “gejala kejiwaan” di dalamnya terkandung fenomena-fenomena kejiwaan yang nampak lewat perilaku tokoh-tokohnya, sehingga karya teks sastra dapat dianalisis dengan menggunakan pendekatan psikologi. Antara sastra dengan psikologi memiliki hubungan lintas yang bersifat tak langsung dan fungsional, demikian menurut Darmanto Yatman (Aminuddin, 1990:93). Pengarang dan psikolog kebetulan memiliki tempat berangkat yang sama, yakni kejiwaan manusia. Keduanya mampu menangkap kejiwaan manusia secara mendalam. Perbedaannya, jika pengarang mengungkapkan temuannya dalam bentuk karya sastra, sedangkan psikolog sesuai keahliannya mengemukakan dalam bentuk formula teori-teori psikologi.

BAB III
PEMBAHASAN

A.    Puisi yang akan Dikaji
*Puisi Terakhir WS Rendra
                              Karya WS Rendra
Aku lemas
Tapi berdaya
Aku tidak sambat rasa sakit
atau gatal

Aku pengin makan tajin
Aku tidak pernah sesak nafas
Tapi tubuhku tidak memuaskan
untuk punya posisi yang ideal dan wajar

Aku pengin membersihkan tubuhku
dari racun kimiawi

Aku ingin kembali pada jalan alam
Aku ingin meningkatkan pengabdian
kepada Allah

Tuhan, aku cinta padamu

B.     Biografi Singkat Pengarang
Dalam penelitian ekpresif, mengetahui latar belakang pengarang merupakan hal yang mesti dilakukan. Karena bagaimana kita akan mengetahui dengan baik isi pesan yang disampaikan tanpa mengenal/mengetahui siapa yang menyampaikannya atau siapa pembuat pesannya.
Willibrordus Surendra Broto Rendra atau yang lebih dikenal dengan WS Rendra lahir di Solo pada tanggal 7 Nopember 1935. Rendra meninggal di Depok, Jawa Barat, 6 Agustus 2009 pada umur 73 tahun. Rendra adalah anak dari pasangan R. Cyprianus Sugeng Brotoatmodjo dan Raden Ayu Catharina Ismadillah. Rendra adalah penyair ternama yang kerap dijuluki sebagai "Burung Merak". Ia mendirikan Bengkel Teater di Yogyakarta pada tahun 1967. Ketika kelompok teaternya kocar-kacir karena tekanan politik, kemudian ia mendirikan Bengkel Teater Rendra di Depok, pada bulan Oktober 1985.

C.    Kajian Berdasarkan Pendekatan Struktural
Puisi di atas adalah puisi terakhir karya WR Rendra. Puisi tersebut sebenarnya belum diberi judul. Puisi tersebut ditulis saat Rendra dirawat di rumah sakit pada tanggal 31 Juli 2009. Kajian pendekatan struktural dalam *Puisi Terakhir WS Rendra yang terdiri dari empat hakikat puisi, yaitu tema, perasaan, nada dan suasana, serta amanat adalah sebagai berikut:
  1. Tema
Tema yang terkandung dalam *Puisi Terakhir WS Rendra adalah ketuhanan (religius), yaitu perasaan ingin mendekatkan diri seseorang kepada Tuhannya saat kondisinya sedang sakit. Dia tidak putus asa dan menyerahkan semuanya kepada Tuhan. Hal tersebut tercermin dalam bait ke-4 yaitu “Aku ingin kembali pada jalan alam//Aku ingin meningkatkan pengabdian//kepada Allah” serta bait ke-5 yaitu “Tuhan, aku cinta padamu”.


  1. Perasaan
Perasaan yang terkandung dalam *Puisi Terakhir WS Rendra adalah kepasrahan dalam menjalani hidup. Dia ikhlas dalam menjalani rasa sakitnya tanpa mengeluh. Dia tidak ingin dikalahkan oleh penyakitnya. Dia justru ingin semakin mendekatkan diri pada Tuhannya. Hal itu tercermin dalam bait:
Aku lemas
Tapi berdaya
Aku tidak sambat rasa sakit
atau gatal
.....
Aku ingin kembali pada jalan alam
Aku ingin meningkatkan pengabdian
kepada Allah

Tuhan, aku cinta padamu
  1. Nada
Nada yang digunakan dalam membaca *Puisi Terakhir WS Rendra pada bait “Aku lemas//Tapi berdaya//Aku tidak sambat rasa sakit//atau gatal” adalah semangat karena penyair tak ingin terlihat lemah dengan penyakitnya. Sedangkan pada bait “Aku ingin kembali pada jalan alam//Aku ingin meningkatkan pengabdian//kepada Allah//Tuhan, aku cinta padamu” menggunakan nada keikhlasan, yaitu pengarang telah ikhlas atas apa yang terjadi dan ingin semakin mendekatkan diri pada Tuhan.
  1. Amanat
Amanat yang ingin disampaikan penyair dalam *Puisi Terakhir WS Rendra adalah  penyair tidak ingin terlihat lemah dengan penyakitnya. Penyair telah ikhlas dengan penyakitnya sehingga tidak mengeluh. Penyair hanya ingin semakin dekat dengan Tuhan disisa akhir hidupnya.
Melalui puisinya, pengarang juga mau menyampaikan pesan/amanat bahwa:
a.       Kita tidak boleh mengeluh apalagi putus asa dalam menjalani hidup sesulit apapun itu.
b.      Kita harus ikhlas dalam menjalani takdir yang telah Tuhan berikan.
c.       Kita harus semakin mendekatkan diri kepada Tuhan.

D.    Kajian Berdasarkan Psikologi Sastra
Asumsi dasar penelitian pikologi sastra antara lain dipengaruhi oleh anggapan bahwa karya sastra merupakan produk dari suatu kejiwaan dan pemikiran pengarang yang berada pada situasi setengah sadar (subconcius) setelah jelas baru dituangkan kedalam bentuk secara sadar (conscius). Dan kekuatan karya sastra dapat dilihat dari seberapa jauh pengarang mampu mengungkapkan ekspresi kejiwaan yang tak sadar itu ke dalam sebuah cipta sastra.
Pada *Puisi Terakhir WS Rendra mampu mengungkapkan ekspresi kejiwaannya tentang sesuatu yang merasuk dalam imajinasi dan pemikirannya tentang pencarian makna hidup dan tentang sesuatu yang menjadi tujuan utama manusia dalam kehidupan ini. Lalu pengalamannya tersebut menjadi imajinasi yang melahirkan produk kreatifitas yang berupa karya sastra dalam puisinya ini.
Misalnya pada bait ke-1
Aku lemas
Tapi berdaya
Aku tidak sambat rasa sakit
atau gatal
Penyair mengungkapkan rasa emosionalnya tentang apa yang dirasakannya. Walau dia merasakan sakit namun tidak mengeluh karna tidak ingin terlihat lemah. Begitu juga pada bait ke-2
Aku pengin makan tajin
Aku tidak pernah sesak nafas
Tapi tubuhku tidak memuaskan
untuk punya posisi yang ideal dan wajar
Pada bait ini, penyair mengungkapkan bahwa penyair merasa tidak nyaman dengan keadaan yang ada. Sedangkan pada bait ke-4 dan 5, penyair sudah merasa ikhlas dengan takdirnya. Dia hanya ingin semakin dekat dengan Tuhan di akhir hidupnya.
Selain itu perwatakan tokoh yang ditampilkan Rendra mampu menggambarkan perwatakan tokoh yang semakin hidup. Dimana tokoh “aku” pada puisinya ini tiada lain adalah dirinya sendiri. Sentuhan-sentuhan emosi yang ditampilkan tokoh “aku” dalam puisi Rendra ini sebetulnya gambaran keikhlasan dan kejernihan batin pencipta karya sastranya sendiri. Keikhlasan ini terlihat pada bait ke-3 dan 4:
Aku pengin membersihkan tubuhku
dari racun kimiawi
Aku ingin kembali pada jalan alam
Aku ingin meningkatkan pengabdian
kepada Allah
Bait ini bermakna jika penulis sudah ikhlas jika harus dipanggil oleh Tuhan melalui baris Aku ingin kembali pada jalan alam”.
Rendra mengungkapkan gejolak jiwanya tentang kehidupan dan tujuan kehidupan ini. Dimana pada bait ke-4, penyair mengungkapkan bahwa akhir dari kehidupan haruslah semakin mendekatkan diri pada Tuhan. Hal ini masih terkait juga dengan latar belakang penyair yang pernah berganti agama dari Katholik menjadi Islam.

E.     Nilai Pendidikan
Dalam puisi *Puisi Terakhir WS Rendra, terdapat nilai-nilai pendidikan yang dapat diambil. Salah satunya adalah nilai religius. Nilai religius dapat dilihat dalam bait ke-4 dan 5 yang menjelaskan bahwa kita harus semakin mendekatkan diri kepada Tuhan. Selain itu ada nilai moral. Puisi tersebut menjelaskan seseorang yang tidak putus asa dengan musibah yang diterimanya. Dia ikhlas dalam menjalani ujian hidupnya. Sehingga *Puisi Terakhir WS Rendra dapat dijadikan acuan untuk pembelajaran sastra di sekolah.

BAB IV
PENUTUP

A.    Simpulan
1.      Kajian Berdasarkan Pendekatan Struktural
a.    Tema yang terkandung dalam *Puisi Terakhir WS Rendra adalah ketuhanan (religius).
b.    Perasaan yang terkandung dalam *Puisi Terakhir WS Rendra adalah kepasrahan dalam menjalani hidup.
c.    Nada yang digunakan dalam membaca *Puisi Terakhir WS Rendra adalah semangat dan keikhlasan.
d.   Melalui puisinya, pengarang juga mau menyampaikan pesan/amanat bahwa: (1) Kita tidak boleh mengeluh apalagi putus asa dalam menjalani hidup sesulit apapun itu. (2) Kita harus ikhlas dalam menjalani takdir yang telah Tuhan berikan. (3) Kita harus semakin mendekatkan diri kepada Tuhan.
2.      Kajian Berdasarkan Psikologi Sastra
Puisi sebagai bentuk komunikasi sastra tidak akan terlepas dari peranan pengarang sebagai pencipta sastra. Maka pendekatan ekspresif merupakan pendekatan yang mengkaji ekspresi perasaan atau temperamen penulis (Abrams, 1981:189). Dan begitu juga pada *Puisi Terakhir WS Rendra pengkajiannya lewat pendekatan ekspresif, merupakan upaya untuk dapat memahami karya sastra ini secara lebih baik sebagai satu kesatuan yang padu dan bermakna.
Berdasarkan pendekatan ekspresif dengan kajian psikologi sastra, dapat dikatakan bahwa *Puisi Terakhir WS Rendra merupakan hasil cipta karya penulisnya dari pengalaman pada kejiwaan dan pemikiran pengarangnya pada situasi setengah sadar lalu dituangkan kedalam bentuk secara sadar. Dan Rendra mampu mengungkapkan ekspresi kejiwaannya tentang hidup dan kehidupan duniawi ke dalam *Puisi Terakhir WS Rendra.
Kajian psikologi sastra pada *Puisi Terakhir WS Rendra ini juga menitik beratkan pada tokoh dan perwatakan tokoh “aku”, dan aspek pemikiran dan perasaan pengarang itu sendiri ketika mencipta karya sastra ini. Selain itu, biografi pengarang menjadi bagian latar belakang yang merupakan bagian bekal dalam memahami karya sastra berdasarkan psikologi pengarangnya.

B.     Saran
Saran dalam penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
1.      Untuk guru bahasa Indonesia sebaiknya menggunakan kajian pendekatan struktural terlebih dahulu dalam mengkaji karya sastra karena itu sebagai dasar. Setelah itu barulah menggunakan kajian pendekatan yang lain misalnya psikologi sastra.
2.      Untuk pembaca hendaknya mampu mengambil amanat dari puisi tersebut yaitu kita tidak boleh mengeluh terhadap apa yang ditakdirkan oleh Tuhan dan kita harus mampu mendekatkan diri kepada Tuhan.

DAFTAR PUSTAKA

Abdul Chaer. 2003. Psikolinguistik. Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Aminuddin. 1990. Kajian Tekstual dalam Psikologi Sastra. Sekitar Masalah Sastra. Beberapa Prinsip dan Model Pengembangannya. Malang: Yayasan Asah Asih Asuh Malang.
Henry Guntur Tarigan. 1986. Prinsip-prinsip Dasar Sastra. Bandung: Angkasa.
M H Abrams. 1979. The Mirror and The Lamp. London-New York: Oxford University Press.
M H Abrams. 1981. A Glossary of Literary Terms. Cet. IV. New York: Holt, Rinehart and Winston.
Rachmat Djoko Pradopo. 2010. Pengkajian Puisi. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.
Teeuw. 1984. Sastra dan Ilmu Sastra Pengantar Teori Sastra. Bandung: Pustaka Jaya.